Senin, 06 April 2015

TANJUNG SOKE : Lungun-lungun pun tak bergema


Di simpang Petung, kami bertemu, setelah sebelumnya kami membuat janji untuk berangkat ke suatu Desa. Yana, Icha, Pandu (Kutai Barat), Kendy (Bontang), Jay (Sangatta) dan Desta (Samarinda). Ini adalah perjalanan pertama kali kami ke Desa yang tak jauh dari kaki Gunung Beratus, salah satu Gunung di Provinsi Kalimantan Timur, untuk mengisi liburan di akhir pekan.

Kendy, Yana, Pandu, Icha, Desta dan Jay (Foto By.Icha)
Latar Belakang Gunung Beratus (Foto By Icha)


Malam itu kami menginap di rumah Sekretaris Desa. Teh hangat menemani kami untuk berbagi cerita dengan beberapa warga di rumah bapak Sekdis. Cerita dimana kami sempat tersesat untuk menuju Desa ini, cerita tentang sebuah Sekolah Dasar yang hanya mempunyai 15 anak didik saja, dan sebagainya, hingga melelapkan 4 pria diatas kasur beralaskan seprei motif bunga berwarna merah tua.


Embun pagi Desa Tanjung Soke menyambut kami. Terlihat hewan-hewan ternak, kerbau, sapi dan kambing sudah memulai aktifitas di pagi harinya. Kami menuju kesuatu tempat dimana Lungun – lungun banyak didirikan, Lungun adalah kuburan Suku Dayak Luwangan, berupa peti yang dijunjung oleh batang kayu berukiran khas motif Suku Dayak Luwangan. Dulunya didalam setiap Lungun terdapat tulang-tulang manusia yang sudah meninggal, sekarang sudah tidak ada lagi, karena tulang-tulang tersebut sudah dikuburkan kembali ke dalam tanah, hanya ada tiga yang masih tetap berada seperti ratusan tahun lalu, tapi bukan di dalam Lungun, melainkan di dalam Klering, yaitu yang dijunjung bukanlah sebuah peti, tapi Guci. Di dalam Guci inilah yang masih ada tulang-tulang manusianya, bahkan sudah berumur ratusan tahun.


Lungun

Klering

Desa kecil yang hanya memiliki 116 jiwa dari 30 Kepala Keluarga ini belum teraliri listrik 24 jam, hanya Listrik Tenaga Surya hasil bantuan puluhan tahun lalu dari Pemerintah, dan Genset yang solarnya mereka beli sendiri untuk menerangi Desa ini. Jalanan menuju Desa ini pun aksesnya sangat buruk, sekitar 32 km, atau sekitar 120 menit dari ibu kota Kecamatan Bongan, yang masih masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Setelah berjalan-jalan mengelilingi Desa, dan melihat Lungun serta Klering, kami ber-enam menuju ke Gedung Sekolah Dasar, sebelumnya, malam tadi kami sudah memberitahukan niat dari ide dadakan kami kepada Kepala Sekolah, yaitu ingin berbagi ilmu serta bermain dengan anak-anak didiknya. Dari 15 siswanya, yang aktif hanya 10 siswa, bahkan untuk kelas 1, kelas 4 dan kelas 6 masing-masing hanya memiliki 1 siswa saja dalam satu kelasnya. Terbayang repotnya melihat Ibu Sabariah mengajar anak-anak tersebut seorang diri, oleh ibu Sabariah yang tak lain adalah Kepala Sekolah disini, anak-anak hanya dibag menjadi 2 ruang belajar saja, yaitu ruang pertama untuk kelas 1, 2 dan 3. Selanjutnya ruangan kedua untuk kelas 4, 5 dan 6. Ibu Sabariah juga dibantu oleh ponakannya untuk mengajar di SD ini.







Semangat anak-anak itu tak pernah kelihatan pudar, bahkan saat kami mengajukan beberapa pertanyaan, saat kami mengajak bernyanyi, disaat kami dan anak-anak menyebutkan satu demi satu butir Pancasila, dan disaat mereka memberitahukan apa cita-cita mereka. Terpikir oleh kami, mungkin sudah tidak ada lagi anak-anak sekolah di pedalaman Kalimantan Timur yang ke sekolah hanya menggunakan sandal jepit, bahkan tanpa alas kaki, tapi itu bukan masalah terbesarnya, yang penting semangat anak-anak untuk sekolah masih ada. Mereka pun merasa tak perlu bergema, apa itu lungun ?, dimana guru kami ?, kapan listrik menerangi Desa kami tanpa batasan waktu ?, mengapa jalan ke Desa berlumpur dan licin jika hujan ?, jika kami sakit ? jika kami lapar, ah kami tidak akan lapar, karena orang tua kami sangat kuat, bisa membuat ladang berhektar-hektar yang ditanami padi.

foto bersama anak - anak SD No. 14 Tanjung Soke beserta ibu Kepala Sekolah

foto bersama keluarga Sekretaris Desa

Inilah sebuah perjalanan, episode pengetahuan yang kami dapatkan bukan dari sebuah buku, tapi dari jendela sebuah Desa yang hampir tanpa sentuhan modern, namun luput dari sentuhan yang berwenang. Walaupun sempat membuat knalpot sebuah motor metic seorang teman lepas, walaupun sempat 40 menit kami jalan tersesat, tapi aroma pemandangan Gunung Beratus tak pernah lepas menemani pejalanan kami, dan senyum seorang gadis Desa yang menyambut saat pertama kali kami memasuki Desa. Ohya, senyum gadis itu juga yang mengantarkan kami meninggalkan Desa tersebut.

Foto - foto akses jalan menuju Desa Tanjung Soke, Kec.Bongan, Kab.Kutai Barat :






Tanjung Soke 03 – 04 April 2015.

Template by:

Free Blog Templates