Kamis, 07 Mei 2015

SAHABAT ABADI edisi pendakian pegunungan Karst Kutai Timur.



Lutut bertekuk menyentuh dagu, merayap melewati jurang-jurang tebing dengan vegetasi hutan tropis di pegunungan karst, 10 jam lamanya pendakian kali ini, normal pendakian biasanya hanya 6 jam, tidak tinggi, hanya sekitar 600 mdpl (meter di permukaan laut), tapi, jalur trackingnya sungguh menentang nyali, apalagi dikala batu karst berjatuhan, tangan kukuh mencekam apa saja yang dianggap kuat untuk menumpu beban agar tak berresiko jatuh, kerjasama dalam tim pendakian sangat membantu untuk menghidupi semangat yang hampir redup diterpa keletihan, ego pun berputar diantaranya, inilah sebuah tantangan yang sesungguhnya, pencapaian bukanlah puncak, tapi pencapaian adalah melawan ego, dan kami belum seutuhnya bisa, masih harus terus banyak belajar, dan terus belajar.

Foto bareng KOMPAD Kutai Barat dan GEMPALA Kutai Timur di Puncak Jepu-jepu, Pegunungan Karts, Kutai Timur (Foto by Ride)
Salah satu sudut pegunungan Karst di Kutai Timur (foto by Yana)
Foto by Ride
Foto By Ride
Mereka penikmat ketinggian
Jalur menuju puncak Jepu-jepu dan puncak tertingginya adalah puncak Sejati di Pegunungan Karst Desa Sekerat, Kutai Timur, dibuka tanpa menebas pohon sedikit pun, hanya di beri tanda pita merah putih, sungguh mereka sangat menjaga alamnya, dan dari merekalah kami banyak mendapatkan ilmu, pengalaman dan tentunya pengertian yang benar tentang PA (Pecinta Alam).

Luar biasa sambutan dari kawan - kawan GEMPALA, kami terharu :)
Sebelum melakukan pendakian, kami KOMPAD Kutai Barat (Komunitas Pecinta Alam Damai) yang baru berumur hampir dua bulan ( 15 Maret 2015 ) diberi pelatihan tentang : First Aid, SRT beserta tali – temali, Survival, Caving, Mountering, Menajemen Perjalanan dll oleh tim GEMPALA edelwies (Generasi Muda Pecinta Alam), yaitu sebuah Komunitas Pecinta alam yang berlokasi di Bengalon, Kutai Timur.

Pelatihan First Aid
Pelatihan tali - temali (simpul)
Pelatihan SRT

Sore hari, usai materi yang disertai praktek langsung, kami menuju pantai untuk mempraktekkan teori tentang survival air, lalu, tepat pukul 2 pagi, kami dibangunkan, dan berbaris serta berjalan dikegelapan dengan beberapa instruksi yang harus kami ikuti, ini benar-benar diluar dugaan kami, kami mendapatkan banyak teori langsung tentang LADAS (Latihan Dasar) Pecinta Alam.

Kami terharu, dan kami bingung, tapi kami sangat bersyukur, di usia muda komunitas kami ini, kami mendapatkan sahabat yang begitu ikhlas nya mau membagi ilmu tanpa pamrih, dan sungguh hal luar biasa bisa mengenal mereka yang selalu berjuang demi pelastarian alam di daerah mereka.
makan bareng :D
“Tetapi alam bisa membalas kapan saja, kalau orang menyakitinya“ ini hanyalah salah satu petikan kalimat didalam sebuah buku tentang gunung. Sedikitpun mereka (GEMPALA) tak ingin alam disakiti, sikap ini terlihat jelas dari gerakan positif mereka selama bersama kami, baik di saat touring, tracking, dan disepanjang kegiatan, kami harap sikap itu pun ada di kami.

Kaki berlumpur, kami tetap tersenyum, apa lagi diiringin kalimat – kalimat “eh, tolong aja ya“ , kala batu kerikil karts yang rapuh berjatuhan, kami tetap tersenyum lagi penuh fokus, diiringi kalimat “batu.. batu.. batu..“ dan di jawab “hadir“. Belum lagi celoteh “reseee” disaat sedang melewati tanjakan “aduhai” tanjakan yang benar-benar memiliki kemiringan 90 derajat.  Kami kangen kalimat ditempat itu, dan kangen mereka, mereka Sahabat kami, Sahabat Abadi, GEMPALA edelwies.


itu siapa ?? yoyok ?? (foto by Yana)
Melewati pantai untuk menuju start pendakian (foto by Yana)

Melewati rawa

Salah satu track yang 90 derajat :D

Foto by Reza


Foto by yana

Masak di kegelapan hahha
dan mereka pun terlelap ckcckk






Senin, 06 April 2015

TANJUNG SOKE : Lungun-lungun pun tak bergema


Di simpang Petung, kami bertemu, setelah sebelumnya kami membuat janji untuk berangkat ke suatu Desa. Yana, Icha, Pandu (Kutai Barat), Kendy (Bontang), Jay (Sangatta) dan Desta (Samarinda). Ini adalah perjalanan pertama kali kami ke Desa yang tak jauh dari kaki Gunung Beratus, salah satu Gunung di Provinsi Kalimantan Timur, untuk mengisi liburan di akhir pekan.

Kendy, Yana, Pandu, Icha, Desta dan Jay (Foto By.Icha)
Latar Belakang Gunung Beratus (Foto By Icha)


Malam itu kami menginap di rumah Sekretaris Desa. Teh hangat menemani kami untuk berbagi cerita dengan beberapa warga di rumah bapak Sekdis. Cerita dimana kami sempat tersesat untuk menuju Desa ini, cerita tentang sebuah Sekolah Dasar yang hanya mempunyai 15 anak didik saja, dan sebagainya, hingga melelapkan 4 pria diatas kasur beralaskan seprei motif bunga berwarna merah tua.


Embun pagi Desa Tanjung Soke menyambut kami. Terlihat hewan-hewan ternak, kerbau, sapi dan kambing sudah memulai aktifitas di pagi harinya. Kami menuju kesuatu tempat dimana Lungun – lungun banyak didirikan, Lungun adalah kuburan Suku Dayak Luwangan, berupa peti yang dijunjung oleh batang kayu berukiran khas motif Suku Dayak Luwangan. Dulunya didalam setiap Lungun terdapat tulang-tulang manusia yang sudah meninggal, sekarang sudah tidak ada lagi, karena tulang-tulang tersebut sudah dikuburkan kembali ke dalam tanah, hanya ada tiga yang masih tetap berada seperti ratusan tahun lalu, tapi bukan di dalam Lungun, melainkan di dalam Klering, yaitu yang dijunjung bukanlah sebuah peti, tapi Guci. Di dalam Guci inilah yang masih ada tulang-tulang manusianya, bahkan sudah berumur ratusan tahun.


Lungun

Klering

Desa kecil yang hanya memiliki 116 jiwa dari 30 Kepala Keluarga ini belum teraliri listrik 24 jam, hanya Listrik Tenaga Surya hasil bantuan puluhan tahun lalu dari Pemerintah, dan Genset yang solarnya mereka beli sendiri untuk menerangi Desa ini. Jalanan menuju Desa ini pun aksesnya sangat buruk, sekitar 32 km, atau sekitar 120 menit dari ibu kota Kecamatan Bongan, yang masih masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Setelah berjalan-jalan mengelilingi Desa, dan melihat Lungun serta Klering, kami ber-enam menuju ke Gedung Sekolah Dasar, sebelumnya, malam tadi kami sudah memberitahukan niat dari ide dadakan kami kepada Kepala Sekolah, yaitu ingin berbagi ilmu serta bermain dengan anak-anak didiknya. Dari 15 siswanya, yang aktif hanya 10 siswa, bahkan untuk kelas 1, kelas 4 dan kelas 6 masing-masing hanya memiliki 1 siswa saja dalam satu kelasnya. Terbayang repotnya melihat Ibu Sabariah mengajar anak-anak tersebut seorang diri, oleh ibu Sabariah yang tak lain adalah Kepala Sekolah disini, anak-anak hanya dibag menjadi 2 ruang belajar saja, yaitu ruang pertama untuk kelas 1, 2 dan 3. Selanjutnya ruangan kedua untuk kelas 4, 5 dan 6. Ibu Sabariah juga dibantu oleh ponakannya untuk mengajar di SD ini.







Semangat anak-anak itu tak pernah kelihatan pudar, bahkan saat kami mengajukan beberapa pertanyaan, saat kami mengajak bernyanyi, disaat kami dan anak-anak menyebutkan satu demi satu butir Pancasila, dan disaat mereka memberitahukan apa cita-cita mereka. Terpikir oleh kami, mungkin sudah tidak ada lagi anak-anak sekolah di pedalaman Kalimantan Timur yang ke sekolah hanya menggunakan sandal jepit, bahkan tanpa alas kaki, tapi itu bukan masalah terbesarnya, yang penting semangat anak-anak untuk sekolah masih ada. Mereka pun merasa tak perlu bergema, apa itu lungun ?, dimana guru kami ?, kapan listrik menerangi Desa kami tanpa batasan waktu ?, mengapa jalan ke Desa berlumpur dan licin jika hujan ?, jika kami sakit ? jika kami lapar, ah kami tidak akan lapar, karena orang tua kami sangat kuat, bisa membuat ladang berhektar-hektar yang ditanami padi.

foto bersama anak - anak SD No. 14 Tanjung Soke beserta ibu Kepala Sekolah

foto bersama keluarga Sekretaris Desa

Inilah sebuah perjalanan, episode pengetahuan yang kami dapatkan bukan dari sebuah buku, tapi dari jendela sebuah Desa yang hampir tanpa sentuhan modern, namun luput dari sentuhan yang berwenang. Walaupun sempat membuat knalpot sebuah motor metic seorang teman lepas, walaupun sempat 40 menit kami jalan tersesat, tapi aroma pemandangan Gunung Beratus tak pernah lepas menemani pejalanan kami, dan senyum seorang gadis Desa yang menyambut saat pertama kali kami memasuki Desa. Ohya, senyum gadis itu juga yang mengantarkan kami meninggalkan Desa tersebut.

Foto - foto akses jalan menuju Desa Tanjung Soke, Kec.Bongan, Kab.Kutai Barat :






Tanjung Soke 03 – 04 April 2015.

Senin, 23 Februari 2015

Cara menuju PULAU BERAS BASAH BONTANG

Bontang merupakan kota penghasil gas alam terbesar di Indonesia bahkan di dunia, selain gas, Bontang adalah tempat pengelolaan Pupuk. Kota yang berhadapan langsung dengan selat Makassar yang berada di Provinsi Kalimantan Timur ini cukup terik dengan panas mataharinya, namun menyimpan sedikit aroma kehangatan permainan angin segarnya. Ya, ada sebuah pulau kecil tempat dimana kita bisa menemukan hembusan angin segar untuk keluar dari cuaca panasnya kota Bontang, yang terletak di tengah laut dengan pantai indahnya tak jauh dari kota Bontang, pulau yang luasnya sekitar 1 hektar ini memiliki mercusuar setinggi 15 meter yang berfungsi untuk navigasi kapal, jarak pulau dari pusat kota Bontang hanya sekitar 7 km atau sekitar 220 km dari Kota Balikpapan.

Pulau Beras Basah di foto pada tahun 2012 by.Yana
Pulau Beras Basah di foto pada tahun 2014 by.Yana

Beras Basah nama pulau tersebut. Mengapa dinamakan Beras Basah? Menurut cerita masyarakat setempat, konon dahulu ada kapal yang berlayar dari Pulau Celebes (Sulawesi) mengangkut karung yang berisi ribuan ton beras menuju Bontang. Namun nahas kapal tersebut karam dihantam ombak besar yang mengharuskan muatan-muatan kapal yang banyak berisi beras tadi hanyut tercecer dan menutupi sebagaian permukaan air di sekitar pulau. Akhirnya oleh masyarakat sekitar menamakan pulau tersebut dengan nama Beras Basah.


Untuk menuju ke Pulau ini dari Kota Balikpapan yang merupakan pintu utama masuk ke Provinsi Kalimantan Timur, anda bisa menggunakan travel langsung atau bus langsung (Bus Samarinda Lestari). Namun jika anda menginginkan transport yang agak murah akan tetapi memakan banyak waktu perjalanan anda, anda bisa naik bus jurusan Balikpapan – Samarinda terlebih dahulu, kemudian melanjutkan dengan bus jurusan Samarinda – Bontang. Untuk lebih rinci, perjalanan dari Balikpapan menuju kota Bontang seperti berikut  (dengan rincian menggunakan transport murah) :
  • Bandara Sepinggan, Balikpapan – Terminal Batu Ampar, Balikpapan dengan Angkot nomor 2A Rp.4.000
  • Terminal Batu Ampar, Balikpapan – Terminal Sungai Kunjang, Samarinda  dengan BIS (± 3 jam) Rp.27.000 (NON AC)
  • Terminal Sungai Kunjang, Samarinda – Pasar Pagi, Samarinda dengan Angkot warna hijau Rp.5.000
  • Pasar Pagi, Samarinda – Terminal Lempake, Samarinda denga Angkot warna merah kecoklatan Rp.10.000
  • Terminal Lempake, Samarinda – Terminal Bontang dengan BIS (± 3,5 jam) Rp.29.000 (NON AC)
  • Terminal Bontang – Pelabuhan Tanjung Laut dengan Angkot Rp.5.000
  • Pelabuhan Tanjung Laut – Pulau Beras Basah dengan Kapal Kayu carter (± 40 menit ) Rp.600.000 – Rp.1.500.000
menyatu dengan langit

Tips :
  • Jika anda berpergian sendiri ke Pulau Beras Basah, datanglah pada hari Minggu atau hari perayaan besar, karena dihari seperti itu anda bisa banyak menemukan para wisatawan baik dari kota Bontang sendiri ataupun luar kota Bontang, anda bisa menumpang di kapal – kapal tersebut yang mengangkut para wisatawan menuju pulau, namun terlebih dahulu sebaiknya anda bernegoisasi kepada motoris kapal atau pemilik kapal atau wisatawan yang menyewa kapal tersebut untuk biaya share cost bahkan kadangkala bisa gratis.
  • Dipulau ini tidak ada penginapan, namun jangan khwatir jika anda ingin menginap di pulau ini tapi tidak memiliki tenda, karena disekitar pulau banyak berdiri gazebo – gazebo berukuran 2 x 3 meter dan ada sebuah bangunan rumah yang bisa anda jadikan tempat menginap.


Sekilas Info :
  • Air tawar bersih dengan harga Rp.5.000 / Jerigen 5 liter.
  • Permainan air yaitu Banana Boat dengan harga Rp.25.000 / orang.
  • Di pulau juga terdapat Mushola, warung makan (Hari minggu/libur), kamar ganti, dan toilet (airnya beli sendiri).
  • Spot snorkling terumbu karang ada di depan dermaga Pulau Beras Basah, segajah , Gelembung Abadi (Geladi) dll.
Banana Boat By.Yana

Salah satu penampakan terumbu karang dan nemo cantiknya
Air bening plus bersihnya pantai membuat keceriaan pada anak - anak untuk menikmatinya
Byurrrrrr.... Buuuuummm

Biru disana akan beda, jika bukan engkau menggandeng tanganku untuk menemui pemandangan itu 'UcapBocah

Template by:

Free Blog Templates