Rabu, 25 Juni 2014

LIAR TAPI JANGAN DI BUNUH 'KAIN TENUN DOYO'

Mengenakan pakaian mahal itu sebuah kesenangan tersendiri bagi beberapa orang, namun tidak bagi saya, apalagi orang seperti saya percaya pakaian hanya sebatas fungsi untuk menutupi tubuh bukan karena harga. Tapi hal itu berbeda ketika saya membeli baju dengan motif sederhana berbahan kain tenun daun Doyo (curculigo latifolia lend) yang merupakan salah satu Heritage Indonesia, warisan tak ternilai bagi bangsa ini.

Penari yang menggunakan pakaian adat dari Tenun Doyo

Secara tidak sengaja saya sangat tertarik dengan hal-hal yang berbau budaya darah ibu saya yaitu Suku Dayak (Dayak Benuaq, Kab.Kutai Barat, Kalimantan Timur). Mungkin di dalam keluarga, saya adalah orang yang paling aktif mencari tau tentang riwayat kebudayaan Dayak khususnya Dayak Benuaq. Ketertarikan itu bermula dari hobi saya yang suka jalan – jalan, hingga mengantarkan saya bisa berinteraksi langsung dengan penenun kain daun Doyo (Ulap Doyo).

Perjalanan saya kali ini adalah perjalanan mendadak, karena kaki saya sudah gatal mengingat sudah 2 bulan saya tidak melakukan travelling, padahal hampir setiap bulan saya melakukan traveling baik di daerah sendiri maupun ke luar pulau, apalagi 2 bulan itu banyak tanggal merahnya dan mendekati weekend.

Dengan bermodal motor pribadi, saya niatkan pergi ke sebuah kecamatan lain di Kabupaten saya, dengan tujuan utama adalah ke kampung Tanjung Isuy. Sebelumnya saya masih menimbang-nimbang antara pergi atau tidak. Pukul empat sore saya nyatakan niat itu, tidak sampai dua jam saya telah sampai di kampung tersebut, padahal normal perjalanan biasanya ditempuh selama dua jam setengah, setengah jam lebih cepat oleh gas motor saya.

Malamnya saya menginap di rumah keluarga, dan kebetulan malam itu sedang ada cara adat Kwangkey di Lamin tengah kampung yang tak jauh dari rumah keluarga saya, saya pun menyempatkan ikut dalam tarian Ngerangkaw sebagai salah satu prosesi acara adat Kwangkey dengan 7 kali putaran dan menggunakan pakaian adat suku Dayak Benuaq yang berbahan Kain tenun Doyo,  acara ini berlangsung setiap malam hingga acara puncak yaitu pemotongan hewan sebagai persembahan.

…….

Pagi itu saya ditemani adik sepupu memulai perjalanan untuk menghampiri riwayat budaya – budaya suku Dayak Benuaq lainnya.

Rumah panjang yang umumnya disebut Lamin oleh suku Dayak, atau oleh orang suku Dayak Benuaq menyebutnya dengan Lou. Rumah itu berbentuk panggung dan panjang, tinggi tiang lamin sekitar 1 hingga 2 meter dari permukaan tanah. Tangga untuk naik ke dalam rumah lamin terbuat dari kayu pohon yang bulat, yang disepanjang batangnya di buat lubang sebagai tempat menginjak kaki untuk menaiki tangga satu demi satu, dinding luarnya terbuat dari papan kayu, atapnya terbuat dari sirip-sirip kayu ulin. Setiap tiang yang berada di teras Lamin dipahat hingga berbentuk patung – patung yang berjejer, seraya menyambut kedatangan kami dan mengatakan “selamat datang di Lamin Batuq Bura”.

Lamin Batuq Bura
ukiran patung di Tiang Lamin

Memasuki kedalam rumah Lamin kita disuguhkan ornamen – ornamen asli Lamin, yang sekarang jarang sekali bisa kita temukan di sebuah rumah Lamin. Kita bisa melihat ornamen itu dari bahan dinding pembelah antara kamar dan ruang tamu yang berbahan kulit kayu, jaman dulu kulit kayu digunakan sebagai dinding, kulit kayu inilah ornamen asli rumah lamin. Keaslian ornamen lainnya terlihat pada lantai rumah lamin yang terbuat dari rotan-rotan yang diikat ke kayu bulat, serta benda – benda yang berada di lamin tersebut seperti tikar yang terbuat dari rotan atau biasanya disebut Lampit. Di satu sisi dinding kulit kayu ada berdiri beberapa tombak yang dulu biasanya digunakan untuk berburu hewan, dan masih banyak benda – benda lainnya yang merupakan ornamen asli rumah lamin.

Kedatangan saya disambut oleh ibu Way, beliau mempersilahkan kami masuk dan duduk di kursi yang terbuat dari rotan. Wanita yang berumur sekitar 50 tahunan ini pun mulai menceritakan tentang keberadaan rumah lamin tersebut. Lamin yang dibangun pada tahun 1990 yang terletak di Kampung Tanjung Isuy, Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur ini dihuni oleh 5 keluarga. Di Lamin inilah kita bisa melihat aktifitas Tenun Ulap Doyo, ibu way pun seorang penenun kain Doyo.

Doyo adalah tumbuhan liar sejenis tunas kelapa atau atau palem atau anggrek yang masih kecil. Ulap yang berarti ‘daun’, jadi Ulap Doyo adalah daun Doyo. Daun ini mirip sekali dengan daun nyiur kelapa yang masih tunas, namun ada terselip didaunnya yaitu bulu-bulu tipis. Daun inilah yang digunakan sebagai bahan untuk membuat benang dan nantinya menjadi kain doyo. Untuk diketahui, Sedikitnya terdapat 4 jenis varietas doyo yang bisa dijadikan sebagai bahan tenun, yaitu doyo temoyo, pentih, biang dan tulang.

Pohon Doyo *sumber google
Tenun Doyo termasuk dalam katagori Tenun Ikat, salah satu ciri khas tenun Doyo yang membedakan dengan tenun ikat di daerah lain adalah adanya titik – titik hitam yang muncul pada bidang yang berwarna terang. Sebelum menjadi kain, daun Doyo yang banyak tumbuh liar di hutan Kalimantan akan melalui berbagai proses, yaitu :

1.Pengambilan daun doyo,
Dimulai dengan pengambilan daun Doyo kemudian direndam di dalam air hingga daging daunnya hancur.

2.Rorot / Merorot
Serat daun doyo di kerik (merorot) di dalam air menggunakan sebilah piasu bambu atau sisir dari atas ke bawah hingga menghasilkan serat – serat kuat dari daun doyo.
Serat Daun Doyo
3.Pintal / Memintal
Selanjutnya Daun doyo yang sudah di Rorot kemudian dikeringkan/jemur. Setelah kering salah satu ujungnya di ikat menyatu lalu di Pintal dengan ujung serat yang diikat lalu dijepit pada ujung kaki dan dibantu oleh tangan yang memelintir ujung serat yang tidak diikat. Setelah satu ikatan seleseai di Pintal maka mulailah untuk menyatukan sambungan demi sambungan hingga menjadi gulungan – gulungan benang yang siap untuk di tenun.

Gulungan Benang Doyo

4.Mewarnai benang
Bahan pewarna pada motif kain menggunakan bahan – bahan alami yang berasal dari tumbuh – tumbuhan.
HITAM : asap hasil pembakaran dammar atau serat daun pohon kebuau yang direbus
MERAH : biji buah glinggang, kulit batang pohon uar dan batu lado
COKLAT TUA : akar kayu oter
HIJAU : daun putrid malu
KUNING : umbi kunyit

5.Merakit alat tenun
6.Menenun

Alat Tenun
Kain Doyo sudah ada sejak Zaman Kerajaan Hindu Kutai ratusan tahun silam dan mulai dikenal secara luas pada akhir tahun 1970 hingga sekarang. Kain Doyo biasanya digunakan pada acara – acara adat suku Dayak Benuaq, namun sering sekali saya menjumpai acara – acara adat yang tidak menggunakan pakaian adat, khususnya yang terbuat dari Doyo, bahkan banyak yang menggunakan pakaian adat dari suku lain dan ada juga yang menggunakan baju biasa, jika hal ini tidak segera diperbaiki, takutnya identitas asli acara adat tersebut akan hilang. Namun tidak semua seperti itu, ada beberapa keluarga yang sedang mengadakan acara adat dan mewajibkan penari, pemusik serta Pengereraw menggunakan pakaian adat sukunya.

Saya salut dengan keluarga ibu Way, karena masih mempertahankan 80 % keaslian rumah lamin serta ornamen - ornamennya, dimana 20 % tidak keasliannya terletak pada tinggi tiang rumah yang hanya 1 hingga 2 meter saja. Tidak seperti kebanyakan rumah lamin lainnya yang hampir 60 % tidak asli, atau bagi saya melihatnya hanya sebagai museum saja. Selain masih mempertahankan ciri keaslian rumah lamin, keluarga ini masih mempertahankan kerajinan tenun ulap doyo yang merupakan mata pencarian sampingan mereka yang biasanya setiap bulan ia menyetor 2 – 3 lembar tenun.

Namun sayangnya pohon Doyo sekarang hampir punah, karena daunnya yang dipetik untuk menjadi bahan utama makin sulit diperoleh. Hal ini disebabkan tumbuhan tersebut belum dapat dibudidayakan oleh masyarakat dan karena semakin banyaknya pembukaan perkebunan kelapa sawit serta pembukaan lahan batu bara yang semakin mengancam keberadaan tumbuhan liar ini. Biar tanaman ini liar tapi janganlah di bunuh hanya karena alasan pembukaan lahan atau sebagainya.

Setelah mendapatkan banyak informasi berharga dari ibu Way, saya bertekad untuk membeli lagi baju tenun doyo, tapi karena harga satu setnya sama dengan harga tiket pesawat PP Balikpapan – Surabaya, maka niat itu akan saya laksanakan ketika punya uang lebih. *modus :D

7 komentar:

Riski mengatakan...

Endingnya mirip sama tulisanku yang dulu aku survey ke mbak yana itu "batu bara menggerus kebudayaan" tapi batal publish hahahaha :D duh kapan ya bisa ke Kubar?????

rahmayana rebang mengatakan...

grek... kapan - kapan lah, buka cabang kandang ayam disini, jadi bisa ke kubar, bahkan tinggal :D

fredy effendy mengatakan...

Asyik banget yang bisa bwt blog sebagus ini... mba yana ajarin donk

rahmayana rebang mengatakan...

@fredy.... mau diajarin kah?? ach saya juga baru mulai nulis lagi, menulis itu susah kalau hanya perlu belajar, tapi sering-sering lah menulis, menulis apa saja, mari menulis, saya juga masih terus belajar kok :)

usemayjourney mengatakan...

Suka banget kalau bisa ngunjungin sentra pembuatan tenun kayak gini. Thanks mbak infonya. Kapan2 kalau bisa main ke sana, pengin berkunjung juga. Dulu waktu ke kaltim belum punya info soal tenun doyo ini. Nice post mbak :D

rahmayana rebang mengatakan...

@usemay...oke ditunggu kedatangannya di sini yach, ntar saya host kan dech, jangan kwatir saya host handal :D ga kalah sama guide-guide travel, tapi kalau saya gratis aja loh :) , yang penting waktu saya free...

IBU ROSMIATI mengatakan...

KISAH SUKSES
Assalamu alaikum wr wb,,senang sekali saya bisa menulis dan berbagi kepada teman2 melalui room ini, sebelumnya dulu saya adalah seorang Pengusaha Butik yg Sukses, kini saya gulung tikar akibat di tipu teman sendiri, ditengah tagihan utang yg menumpuk, Suami pun meninggalkan saya, dan ditengah himpitan ekonomi seperti ini, saya coba buka internet untuk cari lowongan kerja dan secara tdk sengaja sy liat situs pesugihan AKI SYEH MAULANA Di Website/situnya Saya pun langsug hubungi beliau dan Semua petunjuk AKI saya ikuti dan hanya 3 hari, Alhamdulilah benar benar terbukti dan, semua utang saya lunas dan sisanya buat modal usaha, kata kata beliau yang selalu sy ingat setiap manusia bisa menjadi kaya, hanya saja terkadang mereka tidak tahu atau salah jalan. Banyak orang menganggap bahwa miskin dan kaya merupakan bagian dari takdir Tuhan. Takdir macam apa? Tuhan tidak akan memberikan takdir yang buruk terhadap kita, semua cobaan yang Tuhan berikan merupakan pembuktian seberapa kuat Anda bertahan di dalamnya. Tuhan tidak akan merubah nasib Anda jika Anda tidak berusaha untuk merubahnya. Dan satu hal yang perlu Anda ingat, “Jika Anda terlahir miskin itu bukan salah siapapun, namun jika Anda mati miskin itu merupakan salah Anda, saya juga tidak lupa mengucap syukur kepada ALLAH karna melalui Ritual Penarikan Dana Hibah AKI ZYEH MAULANA saya Bisa sukses. Jadi kawan2 yg dalam kesusahan jg pernah putus asah, kalau sudah waktunya tuhan pasti kasi jalan asal anda mau berusaha, AKI ZYEH MAULANA Banyak Dikenal Oleh Kalangan Pengusaha Dan Artis Ternama Karna Beliau adalah guru spiritual terkenal di indonesia, jika anda ingin seperti saya silahkan Lihat No Tlp Aki Di website/internet ~>KLIK DISINI<~ Wassalam

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates