Senin, 24 Februari 2014

KISAH LAIN DARI SISI PULAU DERAWAN PART 1 "GADIS KECIL PENJUAL KUE & BUBUR"

Jika anda berjalan di pagi hari untuk mengintari perkampungan Pulau Derawan, Berau, Kalimantan Timur, anda akan menemui sosok gadis kecil ini, sebut saja nama nya "GADIS" (maklum saya lupa namanya).
Sebelum berangkat ke sekolah, gadis melakukan aktivitas seperti biasa, yaitu berjualan kue. Tanpa alas kaki ia berjualan dengan rute dari ujung pulau hingga ke ujung pulau setiap harinya. Gadis yang masih berusia 7 tahun ini sepertinya tidak pernah mengeluh akan kegiatannya sebelum berangkat ke sekolah, demi membantu menjajakan kue-kue buatan ibunya ia rela bangun lebih awal dari teman-teman sebayanya.




Ternyata di sore hari, ia juga melakukan kegiatan seperti yang di pagi hari, tapi yang dijual bukan lah kue, melainkan bubur nasi.





nantikan cerita KISAH LAIN DARI SISI PULAU DERAWAN PART 2 "SISIK PENYU"






Minggu, 09 Februari 2014

10 PANTAI YANG PERNAH SAYA KUNJUNGI, DIURUT BERDASARKAN RASA KANGEN :D

Pantai Karina, Togean, Sulawesi Tengah

Pantai Duta (Gili Duta), Lombok, Nusa Tenggara Barat

Pantai Tanjung Papuma, Jember, Jawa Timur

Pantai Biduk-biduk, Berau, Kalimantan Timur

Pantai Derawan, Berau, Kalimantan Timur

Pantai Cemara, Wakatobi, Sulawesi Tenggara

Pantai Tanjung Bira, Sulawesi Selatan

Lampung

Pantai Beras Basah, Bontang, Kalimantan Timur

Pantai Bama, Baluran, Jawa Timur

Sabtu, 08 Februari 2014

MAMA GURU SARJANA KEHIDUPANKU


Kau tau? Hingga detik terakhir kepergian beliau, dengan menerjang panasnya kota gas & pupuk bontang, hanya untuk mempersembahkan 3 buah apel kepadaku. Dengan penuh senyum yang lebar ia menungguku di pos sekolah, aku tidak paham tindakannya yang tiba-tiba mencium keningku. Hanya sedikit kalimat yang diucapkan kepadaku, lalu pergi meninggalkan kebingungan tersendiri untuk ku yang masih berada didalam lingkungan sekolah saat itu.

Dua minggu kemudian, mama dipanggil Yang Kuasa, beliau meninggal karena serangan jantung, padahal selama ini tak pernah ada keluhan sakit darinya. Kepergian itu meninggalkan aku dan kembaranku yang masih berusia 15 tahun, bahkan sudah ditinggal ayah sejak dalam kandungan 3 bulan. Bingung, itulah yang pertama kali ku rasakan sejak kepergiannya, bingung untuk menentukan masa depan, aku pun menjadi kehilangan panutan hidup.

NALITN TAONTN DAYAK BENUAQ TUNJUNG



Mencintai Indonesia dengan cara menikmati budaya beserta alamya itu adalah hal yang paling mengasikkan bagiku, bersyukur tinggal disebuah pedalaman yang masih banyak menyimpan keanekaragaman budaya & kekayaan alam, jadi tak perlu jauh-jauh jika ingin menikmatinya, walaupun tak dapat dipungkiri aku sering bertualang ketempat lain untuk menikmati budaya & alam yang berbeda.

Budaya adalah aset wisata terbesar bagi Negara Indonesia, karena keanekaragaman budaya tersebutlah Indonesia banyak dikenal di mata dunia Internasional. Tulisanku kali ini akan mengangkat BUDAYA di Kabupatenku khususnya acara adat “NALITN TAONTN” suku Dayak Benuaq Tunjung.

            Dayak adalah sebuah suku terbesar di pulau Kalimantan yang memiliki begitu banyak sub etnis suku. Diantara beberapa sub etnis suku tersebut berada di Kabupatenku, yaitu Kabupaten Kutai barat, Kalimantan Timur seperti suku Dayak Benuaq, Dayak Tunjung, Dayak Kenyah, Dayak Bahau dan Dayak Aoeheng. Aku pun masih memiliki sedikit keturunan darah suku Dayak, yaitu suku Dayak Benuaq yang mengalir dari darah ibuku. Dan sampai saat ini suku-suku tersebut masih melestarikan budaya adat istiadat didalam kehidupan sehari-harinya.

Nalint Taontn dapat diartikan dengan serangkaian upacara adat yang bertujuan untuk membersihkan tahun, bumi dan segala isinya. Melalui para pememang (pemimpin upacara adat Beliant Nalint Taontn) disampaikan harapan masyarakat agar semakin sejahtera dan makmur. Upacara ini juga sebagai ungkapan rasa syukur atas anugrah yang telah diberikan oleh Yang Kuasa, dan merupakan ungkapan nyata bahwa masyarakat selalu memiliki harapan akan kehidupan yang lebih baik & kehidupan yang sejahtera.

Sang Pememang
Salah satu Tarian Beliant

TIPS + PENGALAMAN DALAM MENCARI TEMPAT MENGINAP SAAT BACKPACKING


Sebelum melakukan BACKPACKING (Orang yang melakukan perjalanan dengan biaya minim kesuatu tempat), terlebih dahulu mencari informasi (Survey) baik dari Transportasi, tempat wisata ( Destinasi ), hingga tempat menginap (Akomodasi).

Tempat menginap sangat berpengaruh erat dalam hal biaya didalam perjalanan, jika semakin lancar anda bisa menyusun ITINERARY (Perencanaan perjalanan), dengan sendirinya anda akan mengetahui berapa banyak biaya yang diperlukan untuk melakukan Backpacking tersebut, bahkan perjalanan anda bisa GRATIS. Simak pembahasan dibawah ini khusus tentang TEMPAT MENGINAP.

Pada saat Backpacking di Lombok, Kami tidur di Kursi Rotan itu, beratapkan langit, berdindingkan suara deburan ombak, udara segar menyelimuti kami.

ada yang ingat ini?? :D

Bagaimana caranya tempat menginap tidak mengorek kantong keuangan anda dalam-dalam selagi melakukan Backpacking? Bagaimana caranya menginap dengan aman (tidak terjadi kejahatan terhadap diri kita) ??. Baiklah akan dipaparkan beberapa TIPS DALAM MENCARI TEMPAT MENGINAP SAAT BACKPACKING, seperti menginap di :

Selasa, 04 Februari 2014

BANGKITNYA LEMBO (HUTAN BUAH-BUAHAN) TRADISI MASYARAKAT DAYAK INDONESIA

http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/inilah-pemenang-lomba-penulisan-blog-hutan-gr/blog/48361/ :)

Sejak jaman dahulu masyarakat Dayak sudah bertekad untuk tidak menjadi perusak lingkungan dan Hutan, walaupun mereka dulu tidak tau bahwa Hutan (hutan hujan) di Indonesia akan menjadi Hutan terbesar ketiga di dunia setelah hutan di Brazil dan Kongo. Ini terlihat dari cara mereka memanfaatkan dan mempertahankan Hutan, contoh diantaranya adalah Ladang berpindah-pindah dan Lembo (Hutan buah-buahan).

Lembo yang diartikan sebagai hutan di Indonesia dengan ditanami buah-buahan serta tumbuhan obat tradisional merupakan tradisi lokal masyarakat Dayak khususnya di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Lembo biasanya berada di dekat permukiman (samping rumah) atau di ladang.

Saat ini keberadaan Lembo semakin terancam punah seperti hilangnya hektar demi hektar Hutan, Lembo juga berubah menjadi hutan beralih fungsi yang dianggap mereka (termasuk masyarakat dayak saat ini) lebih menguntungkan secara ekonomi seperti menanam karet, memperbanyak rumah agar bisa disewakan, menjual ke Perusahaan batubara, dan lain-lainnya. Padahal manfaat Lembo sama besarnya denga Hutan yang belum dijamah.

Sejak tahun 2006 pemerintah Kabupaten Kutai Barat telah mengimbau warga Kutai barat untuk menggerakkan kembali pelestarian lembo-lembo, dan akan diimplementasikan pada tahun ini.

Lembo secara tidak langsung sebagai tradisi kultural masyarakat Dayak yang begitu beragam manfaatnya sebagai hutan buah-buahan dan merupakan sebuah ekosistem lingkungan hidup yang paling akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak. Dari segi perekonomian Lembo dapat meningkatkan kesejahteraan baik untuk kebutuhan sendiri atau pun dijual, walaupun hasilnya tidak terlalu banyak. Lembo juga bermanfaat untuk menjaga kepunahan dari buah-buahan langka.
Beberapa buah khas Kabupaten Kutai Barat (kuning : Meluinkg)

Sebuah pondok di samping Lembo
Sungai kecil di belakang Lembo

 Mempertahankan Lembo sama halnya juga telah mempertahankan kelangsungan Hutan tropis yang menyimpan karbon di tanah dan pepohonan sebagai sumber oksigen dan menyerap karbondioksida (CO2) yang kita hasilkan, karena Lembo terdiri dari pohon-pohon besar beserta tumbuhan yang berdampingan manfaatnya, Lembo pun dapat mengurangi emisi karbon sebagai upaya memerangi perubahan iklim serta kehancuran Hutan.

Dapat diperkirakan dimasa depan tidak ada lagi masyarakat dayak yang memiliki Lembo sebagai warisan keluarga yang berkaitan erat sebagai tradisi turun-menurun jika tidak ada gerakan apapun yang dicetus, padahal dulu mereka percaya tak seorangpun berhak menghancurkan warisan berharga ini, maka jangan sampai terjadi kepunahan tersebut.

Bagaimana caranya agar bisa mendukung gerakan untuk menghidupkan kembali tradisi leluhur ini?, yaitu dengan cara penanaman kembali pohon buah-buahan di sekitar rumah, di kampung atau di ladang. Supaya kelak menjadi warisan hutan buah-buahan untuk anak cucu kita. Dan berharap semoga banyak masyarakat yang mendukung Gerakan Transformasi hutan buah-buahan tersebut termasuk dukungan dari Greenpeace (http://www.greenpeace.org)

Anda Juga bisa bergabung bersama ribuan orang untuk bersama-sama Melindungi Hutan. Protect Paradise! dengan cara membuka link http://www.greenpeace.org/seasia/id/aksi-kamu/Protect-Paradise/

Untuk itu secara tidak langsung penulis bercita-cita akan mengkempanyekan 2 Gerakan sederhana Pelestarian Hutan sebagai solusi berkelanjutan, yaitu :

1.GERAKAN BANGKITNYA KEMBALI LEMBO SEBAGAI TRADISI MASYARAKAT DAYAK
Dengan agenda bulan Juni 2014 memulai pembersihan lahan tanah sebesar setengah hektar yang sudah 20 tahun tidak dijamah, lalu dibakar dan kemudian ditanami padi, setelah panen padi diteruskan untuk menanam buah-buahan yang bernilai ekonomi seperti durian, elay, rambutan, mangga, kapur dll

2.GERAKAN WARISAN HUTAN ABADI
Penulis juga telah membeli 4 hektar tanah yang disekelilingnya telah menjadi hutan beralih fungsi (penambangan batubara), tanah 4 hektar tersebut akan penulis buatkan pagar dan nisan yang bertuliskan “warisan hutan ini saya larang dengan keras untuk dialih fungsikan hingga akhir dunia oleh siapa pun”. Tapi sayangnya hingga kini tanah tersebut masih bermasalah.

Dua Gerakan tersebut memang sangat sederhana, namun saya berfikir daripada kita hanya berkoar-koar dan tidak melakukan tindakan apapun atau aksi nyata, maka yang kita suarakan hasilnya akan NIHIL saja. Gerakan tersebut juga akan saya berlakukan pada keturunan saya. Tapi Jujur Gerakan tersebut baru penulis rumuskan sekitar tahun 2013, dan akan memulai untuk mencari dukungan di bulan Maret 2014 ini.

Bagaimana dengan anda? Anda ingin mendukungnya untuk menjadi bagian dari sebuah solusi sederhana? Caranya mudah saja, tinggal anda investasikan saja tanah anda menjadi 2 gerakan tersebut. Mari sukseskan, jangan takut anda kekukarang atau kelebihan harta, mari bersedekah hutan untuk dunia


beberapa referensi :
http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/berkicau-untuk-hutan-indonesia/blog/47146/
http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/pentingnya-sebuah-pohon/blog/47925/
http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/hutan-hujan-great-bear-merajut-perjalanan-pan/blog/44611/
http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/persembahan-bagi-indonesia/blog/44275/
http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/perubahan-iklim-tantangan-dan-solusinya-bagi-/blog/43810/ 

http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/Hukum-Rimba/blog/42383/ 
note : Tuhan bersabda, Setan berbisik, tapi uang bicara…

Senin, 03 Februari 2014

HUTANKU RUMAHKU

Mereka tak perlu janji-janji dari pemerintah atau janji para calon anggota dewan serta janji para penguasa, selain memohon agar hutan tetap dijaga kini hingga nanti. Tak perlulah orang lain dari luar daerah mereka mengambil hutan tersebut walaupun orang-orang diluar sana memiliki banyak harta. Tak perlulah memberikan janji kehidupan yang layak untuk mereka, cukup orang-orang dari luar sana membantu mereka dalam menjaga hutan-hutan ini. Membantu seperti apa? Dengan cara tidak membuka lahan untuk sawit atau batu bara dan sejenisnya, karena mungkin 5 atau 20 tahun yang akan datang tak akan ada lagi anak cucu mereka (masyarakat pedalaman borneo) yang bisa menikmati manfaat dari hutan.




Sebuah pondok kecil yang dindingnya terbuat dari kulit kayu, beratapkan rumbia dan berlantaikan papan beserta bambu dengan beralaskan tikar dari pelepah daun pandan hutan yang di dalamnya sedang mengepulkan asap dari perapian tempat memasak. Suara burung-burung hutan beserta ayam saling bersahut-sahutan menemani kegiatan mereka dalam dinginnya udara pagi hutan dipedalaman borneo.

Masih sama dengan 5 tahun yang lalu, dimana semua kebutuhan hidup mereka dapatkan dari hutan, dan hingga kini hutan disekeliling pondok (rumah bagi mereka) masih belum terjamah. Dihutan inilah mereka menyandarkan hidup untuk meneruskan perjuangan dalam mencari makanan dan minuman, semoga hingga 5 tahun dan seterusnya masih seperti ini, harap mereka.

Nasi yang mereka dapat dari hasil menanam padi dengan system ladang berpindah-pindah yang setelah dipanen padinya mereka tumbuk sendiri, sayur dari kebun disamping pondok mereka, ikan beserta hewan lainnya dari hasil menjerat serta ada beberapa hewan yang dipelihara, begitu pula untuk mencari penghasilan tambahan dengan cara membuat gula aren dan menjual madu atau buah-buahan.




Raut wajah bahagia tanpa ada rasa terbebani oleh hidup mereka pancarkan, mereka pun tak pernah khwatir oleh bencana kemarau karena tak jauh dari pondok mereka terdapat mata air yang masih terjaga oleh pohon-pohon besar, mereka juga tak khwatir akan bencana longsor dan banjir, karena mereka jauh dari gedung-gedung tinggi.

Walaupun mereka sebagai orang tertinggal, tapi mereka masih maju dari kehidupan orang-orang jaman sekarang (kota), maju karena pada saat masyarakat lainnya (tetangga) sedang membuka ladang atau menanam padi, mereka segera bergotong royong untuk menyelesaikan tradisi yang masih mereka jalankan hingga saat ini.

Namun karena kebutuhan ekonomilah mempupuskan harapan semua manusia. Hingga saat ini tak ada satu pun perekonomian yang berjalan bersampingan dengan hutan (alam) beserta isinya dan hutan bagi mereka nantinya bukan lagi sebagai rumah mereka, melainkan sebagai tempat yang asing. Hutanku rumahku hilang digerus jaman. Padahal merekalah sang penjaga hutan dan pahlawan yang telah banyak menyumbangkan oksigen bagi dunia tapi akhirnya terpinggir oleh dunianya sendiri.

Sendawar, Januari 2014

Template by:

Free Blog Templates